1. Selamat Tinggal Kekasih Jiwaku
"Halo. Pak Raymond. Apa Bapak bisa segera datang ke rumah sakit? Ketuban istri Bapak sudah pecah dan kami akan mempersiapkan untuk operasi caesar secepatnya."
Raymond yang baru saja menghabiskan makan siangnya di kampus tempatnya mengajar, langsung berlari menuju parkiran. Dia memacu motornya secepat mungkin, berkejaran dengan waktu. Rasa cemas semakin menggelayuti hatinya, memikirkan keselamatan sang istri dan calon anaknya.
Setelah memacu motor selama 25 menit, akhirnya Raymond tiba di rumah sakit. Hatinya sedikit lega saat melihat kedua mertua dan orang tuanya yang sudah ada di rumah sakit.
"Syukurlah kamu sudah datang, Dokter mencarimu tadi," ujar mertua perempuan Raymond.
Raymond hanya mengangguk cepat dan segera berlari menuju ruang operasi. Petugas medis sudah menunggu di luar, memberikan pakaian steril yang harus segera dia kenakan.
"Pak Raymond, tolong tanda tangani persetujuan untuk melakukan operasi caesar," ucap seorang perawat wanita.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Raymond melakukan apa yang diminta oleh sang perawat. Tadinya Raymond ingin menemani Hanna di ruang operasi. Akan tetapi, melalui beberapa pertimbangan, akhirnya dokter tidak mengizinkan Raymond.
Di luar ruangan operasi, Raymond menggenggam kedua tangannya erat-erat, berdoa dalam hati agar semua berjalan lancar. Bayi mereka akan lahir hari ini—lebih cepat dari yang direncanakan, dan dia berharap semuanya akan baik-baik saja.
Setelah menunggu tanpa kepastian, akhirnya tangisan bayi menggema di ruang operasi. Kedua orang tua Raymond dan Hanna menghela napas lega, karena sang cucu telah lahir le dunia. Sementara Raymond tercekat saat mendengar tangisan bayinya.
Namun, sukacita itu seketika berubah menjadi duka cita saat seorang dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri Raymond.
“Pak Raymond …” suara dokter itu pelan, penuh kehati-hatian. "Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi … istri Bapak mengalami komplikasi akibat preeklamsia berat. Pendarahan yang terjadi terlalu parah dan tidak bisa kami hentikan .…"
Raymond hanya bisa menatap sang dokter tanpa berkata apa-apa.
"Istri Bapak … tidak berhasil diselamatkan."
Dunia Raymond seketika runtuh. Dia terdiam, tak dapat merespons apa pun. Dadanya terasa sesak, matanya memanas menahan air mata. Dia baru saja kehilangan belahan jiwanya, dalam hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup mereka.
***
Beberapa jam setelah operasi berlangsung, Raymond terduduk di lorong rumah sakit, dikelilingi oleh keheningan dan duka yang pekat. Tangannya menggenggam liontin milik Hanna dengan erat, seakan-akan dapat merasakan keberadaan sang istri melalui benda itu. Dia menatap kosong ke depan. Pikirannya berkecamuk.
Sementara kedua mertuanya dan sang ayah sedang mengurus jenazah Hanna dari keluar dari rumah sakit sampai tiba di rumah duka. Sedangkan ibunya menunggui anak Raymond yang kini resmi berstatus menjadi anak piatu.
Raymond menunduk, memandangi liontin yang berbentuk hati. Di mana dalam liontin itu terdapat foto pernikahan mereka. Tangis yang semula tertahan, akhirnya luruh tanpa bisa dibendung. Air mata mengalir pelan, jatuh membasahi liontin yang kini terasa begitu berat.
Hanna telah tiada.
Kalimat itu berulang kali berputar di kepala Raymond, menghantam dadanya seperti gelombang yang tak kunjung reda.
Namun, hidup harus terus berjalan. Ada satu nyawa kecil yang kini sangat membutuhkannya. Seorang anak laki-laki yang bahkan belum tahu dunia seperti apa yang menyambutnya. Seorang anak yang telah kehilangan ibunya bahkan sebelum sempat menatap wajahnya.
"Ray. Ikhlaskan Hanna agar jalannya di sana tidak berat." Raymond menoleh dan melihat Juwita-sang ibu yang menatapnya cemas.
"Akan aku usahakan, Mah," ucap Raymond lirih.
Juwita hanya menghela napas kasar saat melihat Raymond meratapi kepergian wanita yang dia cintai untuk selama-lamanya.
"Raymond ... ayo kita lihat anakmu. Dia sangat tampan." Raymond segera mengikuti Juwita.
Suasana ruang NICU terasa hening dan syahdu. Hanya suara lembut monitor serta alat bantu napas yang menemani bayi-bayi mungil yang terbaring di dalam inkubator. Raymond berdiri di balik kaca, matanya langsung tertuju pada salah satu bayi yang sedang tertidur dengan tenang.
"Yang mana, Mah?" tanya Raymond pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Juwita menunjuk ke arah bayi dengan selimut biru dan gelang nama bertuliskan Bayi Ny. Hanna.
"Itu ... dia anakmu, Ray. Dia lahir dengan berat tiga kilogram. Dokter bilang kondisinya belum cukup stabil meski lahir cukup bulan. Jadi harus dirawat sampai kondisinya stabil." jelas Juwita.
Raymond menempelkan tangannya ke kaca, menatap bayi mungil itu dengan mata berkaca-kaca.
Air matanya kembali jatuh. Tapi kali ini, tangis itu tak hanya karena kehilangan. Tangis itu juga berisi harapan dan janji—bahwa dia akan menjadi sosok ayah yang layak dan sanggup melindungi serta mencintai anaknya tanpa syarat.
"Sudah ada nama untuk anakmu, Ray?" tanya Juwita lembut.
Raymond menoleh pelan. “Hanna ingin nama anak laki-laki kami Theodore . Kata Hanna … anak ini adalah dari hadiah dari Tuhan untuk kami."
Juwita mengangguk sambil memeluk lengan anaknya. “Bagus sekali. Nama yang indah …."
Suara ponsel Juwita memotong kalimatnya, dia mengambil benda pipih itu dari tasnya.
"Kami sudah siap di rumah duka. Tinggal menunggu Raymond untuk menutup petinya." Suara seorang pria langsung terdengar saat Juwita menempelkan ponselnya ke telinga.
"Akan Mama sampaikan sama Raymond. Mama mungkin nggak bisa ke sana karena harus jagain Theodore, cucu kita," ucap Juwita pada suaminya.
Raymond memejamkan matanya sejenak. Hatinya kembali terasa sesak mendengar kalimat terakhir itu—menutup peti Hanna. Kenyataan itu benar-benar terasa pahit. Seseorang yang kemarin masih memeluknya dengan penuh cinta, kini telah terbujur kaku dan akan segera dimakamkan.
"Aku ke sana sekarang, Mah," ucap Raymond pelan.
"Papa pergi sebentar buat lihat Mama ya, Theo," bisik Raymond lirih.
Jemari Raymond menempel di kaca ruangan NICU, seolah berharap bisa menyentuh kulit lembut bayinya meski hanya sebentar.
"Tenang saja, Ray. Mama akan jagain Theo sampai kamu pulang dari rumah duka," kata Juwita lembut.
Raymond menatap ibunya. "Terima kasih, Mah."
Beberapa menit kemudian, Raymond sudah berada di mobil menuju rumah duka. Jalanan terasa sunyi, meski kendaraan lalu lalang. Suara hatinya jauh lebih bising dari apa pun. Setiap kenangan bersama Hanna datang seperti potongan film yang terputar di kepalanya—tawa Hanna, suaranya yang manja, tangannya yang selalu mencari jari Raymond saat tidur malam.
Sesampainya di rumah duka, isak tangis ibu Hanna menyambut langkah Raymond. Mertua perempuannya sedang menangis dalam pelukan adik perempuan Hanna yang terlihat rapuh. Sementara sang ayah tampak menepuk-nepuk punggung ayah Hanna, guna memberikan kekuatan.
Ruangan sebagian besar dipenuhi keluarga besar, sahabat dan kolega Hanna. Namun, semua seolah menghilang dari penglihatannya saat dia mendekat ke arah peti putih yang dihiasi bunga-bunga segar. Wajah Hanna tampak tenang. Sangat tenang. Seolah hanya tidur.
Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi istrinya satu kali untuk terakhir kalinya. "Aku di sini, Sayang. Tidurlah yang nyenyak. Jangan khawatir, aku akan menjaga Theodore, putra kita."
Suara benda jatuh yang keras di dalam ruangan, membuat semua orang menghentikan aktivitasnya dan terfokus pada satu titik.
"Mami!"
Keadaan menjadi kacau saat Diana-ibu Hanna kehilangan kesadaran. Wajahnya pun mulai membiru karena terkena serangan jantung.
"Cepat bawa Mami ke rumah sakit!" pekik kakak laki-laki Hanna.
Raymond hanya terdiam saat melihat suasana yang bertambah kacau. Dalam hati dia masih tak percaya jika semua ini hanya kenyataan.
Para pelayat langsung bergerak panik, beberapa di antaranya membantu mengangkat tubuh Diana ke mobil. Tangisan dan kepanikan mewarnai ruangan yang sebelumnya pekat dengan aura kesedihan itu.
Raymond mematung di tempatnya, berdiri di sisi peti Hanna dengan pandangan kosong. Kejadian demi kejadian terus menghantamnya tanpa memberi jeda. Baru saja dia kehilangan istrinya, kini mertuanya dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung.