“Menungguku?” “Iya—” “Ada perlu apa, Kak? Belum makan? Pelayan nggak masak? Atau mau aku masakkan sesuatu?” Zayne menyalakan lampu, menatap Arielle. Tak lama satu pelayan masuk dan mengambil Axel dari gendongan Arielle. “Ganti popok, baju tidur, tolong dilap keringatnya trus dibedakin.” Arielle memberi perintah lembut. Setelah Axel lepas dari gendongannya, ia mengalihkan pandangan pada Zayne. “Kak, kok diam?” Zayne menatap tajam, dengan tangan terjalin di belakang tubuh. “Kamu pergi bawa bayi dari sore sampai malam begini. Tanpa mikir gimana kondisinya?” Arielle mengernyit bingung, “Setahuku kita sepakat, dan aku nggak pulang telat. Sesuai janji. Lagi pula, Axel sama aku tenang saja. Nggak makan aneh-aneh juga.” “Kamu merasa begitu, apa kamu tanya bagaimana perasaan Axel?” Zayne me

