“Wow, Arielle. lni rumahmu?” seru Riven dengan nada penuh kekaguman. Turun dari mobil dan menatap takjub pada rumah besar serta megah di hadapannya. Arielle tersenyum. “Hai, ini bukan rumahku tapi rumah kakak sepupu.” “Tapi, kamu tinggal di sini bukan?” “Memang, aku pengasuh anaknya.” Riven menatap Arielle dengan pandangan lembut. “Ulfa sudah cerita sebagian padaku. Kamu hebat.” Kali ini Arielle menggeleng malu-malu. “Aku nggak hebat sama sekali.” Di dekat pintu, Zayne berdiri dengan tubuh tegang dan rahang mengeras. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak keruh, sulit disembunyikan dari siapa pun yang melihat. Tatapannya tertuju pada Riven, pemuda asing yang baru saja melangkah masuk ke rumahnya. Siapa dia? Kenapa bisa datang ke sini tanpa pemberitahuan? Pertanyaan-pertanyaan itu

