Kamar rumah sakit terasa sedikit lebih terang malam itu. Lampu temaram memantulkan bayangan lembut di dinding, membuat suasananya tidak seseram hari-hari awal Gladis dirawat. Ia bersandar sambil memeluk bantal, tubuhnya masih lemah tapi hatinya terasa lebih kuat setelah berhasil menyusui Harsha meski hanya sebentar. Alfito duduk di sisi ranjang dengan laptop terbuka. Tapi matanya tidak pernah benar-benar fokus pada layar. Sesekali ia menoleh ke Gladis seolah memastikan istrinya tidak menghilang begitu saja. “Kamu harus pulang sebentar malam ini” kata Gladis tiba-tiba, memecah keheningan. “Tentu saja tidak” sahut Alfito cepat. “Aku di sini aja. Kamu lagi butuh aku” Gladis menggeleng. “Fito, kamu udah berapa hari nggak pulang? Kamu mandi cuma numpang di kamar mandi perawat, tidur selalu

