Hari sudah hampir malam ketika Gladis kembali ke kamar. Rasa letih mulai menyelimuti tubuhnya, tapi hatinya masih terasa penuh setelah sesi skin-to-skin dan menyusu tadi. Setiap detik bersama Harsha membuatnya seperti bernapas lebih baik. Ia merasa hidup. Perawat baru saja keluar ketika Alfito duduk di tepi ranjang dan mengibaskan rambut Gladis yang menempel di pipinya. “Aku bangga banget sama kamu hari ini” Gladis hanya mengangguk kecil. “Aku cuma ngelakuin apa yang harus aku lakukan sebagai ibu” “Bukan semua ibu bisa sekuat kamu menghadapi situasi seperti ini” Alfito membalas lembut. Gladis menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. “Aku takut kalau aku berhenti berjuang, Harsha bakal ngerasa sendirian” “Kamu udah ada di hatinya sejak dia belum bisa lihat dunia ini” suara Alfito

