Cahaya terang menyambutnya saat kelopak mata Gladis perlahan bergerak. Pandangan pertama yang tertangkap adalah siluet lampu kamar rumah sakit yang menggantung di atasnya. Udara terasa berat, seperti ada beban yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia mencoba bernapas lebih dalam, namun rasa sakit menusuk di bagian perut membuatnya mengerang pelan. Butuh beberapa detik sampai ia sadar sepenuhnya. Dimana bayiku? Dimana Fito? Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, panik mengambil alih. Namun sebelum ia benar-benar tenggelam dalam rasa cemas itu, terdengar suara kursi bergeser. Seseorang bangkit dengan tergesa. “Gladis… sayang kamu sudah sadar?” Alfito. Suaranya bergetar, namun penuh kelegaan yang menyapu gundah di wajahnya. Ia mendekat, memegang tangan Gladis yang terasa dingin. Matanya mem

