Ruang operasi terasa seperti dunia lain, penuh cahaya dingin yang menyilaukan dan aroma menyengat antiseptik. Gladis berusaha membuka mata, walau pandangannya kini sudah buram dan berbayang. Suara dokter dan perawat berbaur menjadi dengungan yang samar, seolah ia berada di bawah air. Namun satu hal masih jelas dalam benaknya: ia harus tetap hidup demi bayi mereka. “Tekanan darah turun lagi! Persiapkan transfusi tambahan!” suara dokter terdengar tegang. Gladis ingin berbicara, tapi masker oksigen menempel kuat pada wajahnya. Ia hanya bisa menggerakkan jari sedikit, mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya bertahan. Dalam pikirannya ia melihat wajah Alfito, senyum tulus yang pernah meyakinkannya bahwa tidak semua cinta berakhir dengan luka. Ia mengingat suara tawa mereka, pelukan hanga

