Sudah tiga hari Gladis berada di rumah sakit. Tubuhnya perlahan pulih, walau rasa sakit di perut masih sering datang di saat ia mencoba bergerak. Namun dibanding rasa khawatir dan syukur yang menguasai dirinya, semua itu terasa jauh lebih kecil. Setiap hari dirinya selalu minta untuk dibawa ke NICU. Meski hanya bisa menyentuh Harsha lewat celah kecil di inkubator, momen itu menjadi alasan ia terus sadar dan terus berjuang. Harsha semakin kuat, napasnya tidak lagi terlalu sesak, meski alat bantu masih terpasang. Dan setiap malam, Alfito selalu duduk di kursi kecil di samping tempat tidur Gladis, memegang tangannya hingga ia tertidur. Kadang pria itu baru terlelap menjelang subuh dengan kepala bersandar di pinggiran kasur, tapi begitu Gladis terbangun ia pasti sudah tersenyum, seolah tidak

