Pagi berikutnya, sinar matahari memasuki kamar melalui celah tirai yang setengah terbuka. Gladis membuka mata perlahan, merasa sedikit lebih kuat dibanding kemarin. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, semangatnya untuk menemui Harsha selalu membuatnya mampu berdiri setiap hari. Alfito masih tertidur di sofa kecil, dengan selimut yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Posisi tidurnya terlihat tidak nyaman, namun wajahnya tetap menunjukkan ketenangan. Gladis tersenyum kecil. Ia tahu suaminya melewati malam-malam sulit seperti dirinya. Ia mencoba duduk perlahan. Rasa nyeri masih terasa, tapi tidak seburuk hari-hari pertama. Saat ia mencoba berdiri, Alfito tergerak seolah memiliki radar khusus yang langsung mendeteksi gerakan istrinya. Hei, kamu mau kemana? suaranya masih serak karena ba

