Bab 43

733 Kata

Hari-hari berikutnya berjalan pelan namun penuh keajaiban kecil. Setiap pagi, Gladis bangun dengan keinginan yang sama: melihat Harsha. Setiap hari pula ada kemajuan yang meski tampak kecil, namun berarti besar bagi mereka. Selang bantu napas semakin sedikit, tubuh mungil itu mulai lebih kuat setiap kali ia menempel pada d**a ibunya. Namun di balik semua itu, Gladis masih menyimpan ketakutan yang sulit ia hilangkan. Ia takut kehilangan lagi. Trauma itu masih berdiam di sudut hatinya, menunggu celah sedikit saja untuk kembali menyerang. Malam itu, setelah Gladis selesai makan malam yang lebih layak dibanding biasanya, ia duduk bersandar pada sandaran ranjang. Tatapannya tertuju pada foto USG yang kini disimpan Rani di atas nakas. Perutnya yang dulu berisi kehidupan kini hanya meninggalkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN