Pagi itu udara terasa lebih ringan bagi Gladis. Ia bangun tanpa rasa panik yang biasanya selalu ikut membuka matanya. Begitu menatap amplop biru di nakas, ia langsung ingat wajah mungil Harsha yang sudah membuka mata kemarin. Ia menyentuh amplop itu seolah menyapa putranya dari jauh. Alfito masih tertidur di kursi dekat ranjang. Posisi tubuhnya sangat tidak nyaman, tapi setiap malam ia selalu menolak pulang. Ia takut jika ia pergi, sesuatu terjadi pada Gladis. Dan Gladis diam-diam merasa tenang dengan keberadaan suaminya di dekatnya. Pelan-pelan, ia merapikan selimut yang menutupi d**a Alfito. Wajah lelaki itu terlihat lebih capek dari yang ia kira. Garis lelahnya jelas, namun ada ketenangan di sana. Lelaki yang ia cintai itu berubah banyak sejak kejadian ini. Ia lebih sabar, lebih lembu

