Gladis tidak langsung pulang ke unit setelah kejadian di mushola tadi. Ia duduk lama di kursi tunggu lantai dua, menatap lantai yang mengilap seperti ada sesuatu yang ingin ia tembus dengan pandangan. Dadanya sesak. Bukan hanya karena air mata yang terus ia tahan, tapi karena amarah dan kecewa yang tiba-tiba terlalu ramai di dalam dirinya. Semua kata-kata Rara berputar di kepala, menusuk, menampar, menyisakan luka yang tidak ia duga. Kamu cuma numpang hidup di hidup dia. Kamu bukan prioritas. Kalimat itu terus terulang, seakan seseorang menekan tombol replay di benaknya. Gladis tahu Rara sedang marah. Ia tahu Rara kehilangan kendali. Tapi kenapa kata-kata itu terasa seperti kebenaran yang selama ini ia sembunyikan dari dirinya sendiri. Telapak tangannya dingin. Ia menunduk, menahan gemet

