Gladis terbangun lebih cepat dari biasanya. Matanya terbuka perlahan, terasa berat seperti habis menangis semalaman. Napasnya naik turun pelan, masih terpengaruh bayangan kejadian di koridor NICU kemarin. Tubuhnya terasa dingin meski selimut menutup sampai leher, dan sesaat ia harus memastikan suara napas kecil di sampingnya benar-benar nyata. Ia menoleh perlahan. Harsha tidur pulas dalam gendongan kecil di dadanya, wajah mungil itu tenang, bibirnya sedikit terbuka seolah sedang bermimpi tentang hal yang paling lembut di dunia. Gladis meraba pipinya, memastikan, memegang hidupnya sendiri lewat kulit bayi itu. Detik berikutnya ia menarik napas panjang, menahan sesak di d**a yang tiba-tiba kembali muncul. Rasa takut itu datang lagi, rasa yang tidak pernah benar-benar hilang sejak pertama ka

