merambat turun pelan, seolah sengaja memberi waktu pada dua anak manusia yang masih duduk berdampingan di teras belakang rumah itu. Lampu-lampu halaman menyala redup, memberi warna kuning hangat yang memantul di wajah Gladis dan Alfito. Tidak ada dari mereka yang bicara selama beberapa menit terakhir. Hanya suara jangkrik, angin malam, dan detak jantung yang anehnya terasa terlalu keras. Gladis mengusap botol minumnya, memainkan tutupnya naik turun. Bukan karena haus—lebih karena ia tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya ketika suasana jadi begini. Alfito menatap Gladis tanpa malu-malu. Seolah ia sedang menghafal tiap detail gadis itu agar tidak ada yang terlewat. Bibirnya melengkung kecil, bukan senyum genit, bukan ejekan. Tapi sesuatu yang jauh lebih halus. Sesuatu yang hanya

