Pagi di kantor terasa berbeda bagi Gladis. Tidak ada energi. Tidak ada semangat. Bahkan senyum kecil yang biasanya ia paksa agar suasana kerjanya tidak terlalu muram pun tidak muncul hari itu. Ia duduk di meja kerjanya dengan pandangan kosong menatap layar monitor yang belum dinyalakan. Alfito datang beberapa menit kemudian. Begitu melihat wajah Gladis, langkahnya melambat. Ia langsung tahu ada yang tidak beres. “Dis,” panggilnya pelan sambil mendekat, “kamu tidur?” Gladis menggeleng tanpa melihatnya. “Enggak.” “Ayah ibu kamu bilang apa lagi semalam?” Alfito menarik kursi dari meja sebelah dan duduk tepat di depannya. “Kamu kelihatan bukan cuma capek. Kamu kayak habis bertarung semalaman.” Gladis akhirnya menatap Alfito. Matanya merah, tapi ia tidak menangis. “Mereka enggak percaya sa

