Dalam perjalanan kembali ke kamar, Alfito mendorong kursi roda Gladis perlahan. Ruangan NICU yang dingin masih terasa jelas di kulitnya, dan detak kecil Harsha seolah masih menempel di d**a Gladis. Selama beberapa menit mereka hanya diam, tenggelam dalam emosi masing-masing. Sampai akhirnya Alfito memecah hening dengan suara rendah. “Kamu kuat banget.” Gladis menoleh sedikit. “Enggak. Aku cuma belajar supaya enggak jatuh lagi.” “Tetap aja kamu kuat.” Alfito membalas tanpa ragu. “Enggak ada yang bisa ngelakuin ini sebaik kamu.” Gladis tersenyum kecil, tetapi ada sesuatu di matanya yang membuat Alfito mencondongkan tubuh sedikit. Ia tahu senyum itu bukan sekadar bahagia. Ada ketakutan di baliknya. Begitu masuk kamar, Gladis menarik napas panjang. Perasaannya campur aduk, antara bahagia

