Sejak pengakuan itu, suasana di antara Alfito dan Gladis berubah. Bukan menjadi canggung, bukan pula menjadi terlalu manis, tetapi lebih… intens. Seperti setiap kata yang keluar dari mulut mereka kini punya bobot baru. Setiap tatapan terasa lebih dalam. Setiap kedekatan tubuh memunculkan getaran yang mereka pura-pura tidak merasakan. Pagi itu Gladis datang sedikit terlambat. Bukan karena bangun kesiangan, tapi karena ia sibuk menenangkan diri. Semalaman ia gelisah, memikirkan keputusan Alfito yang memilih tinggal karenanya. Ia senang, tentu saja. Tapi ia juga takut. Takut mengecewakan. Takut menjadi alasan seseorang menolak kesempatan besar. Saat Gladis sampai di lantai tujuh, ia berhenti sebentar di depan pintu kaca besar menuju area kerja. Dari balik kaca, ia bisa melihat Alfito sedang

