Hari itu terasa lebih tegang daripada biasanya. Alfito baru saja kembali dari kantor dengan wajah serius. Meski Harsha tidur nyenyak di kamar, ia tahu masalah yang ia tinggalkan di meja kerjanya belum selesai. Gladis duduk di sofa, menatap Alfito dengan cemas. Ia bisa merasakan ketegangan yang masih tersisa di tubuh suaminya. “Fito… kamu kelihatan capek banget,” ucap Gladis pelan sambil menyodorkan secangkir teh hangat. “Apa yang terjadi di kantor?” Alfito mengambil teh itu, menghirup aroma hangatnya sebentar, lalu menatap Gladis. “Dis… ada beberapa keputusan besar yang harus aku ambil. Beberapa rekan mulai mempertanyakan kepemimpinan aku. Mereka berpikir aku terlalu fokus sama keluarga, terlalu fokus sama Harsha, dan itu bisa memengaruhi pekerjaan.” Gladis menelan ludah, merasakan jant

