Keesokan harinya, udara di rumah Gladis terasa berbeda. Matahari pagi menyinari ruang tamu, tetapi cahaya itu seolah tidak mampu menyingkirkan kekhawatiran yang mengambang di udara. Alfito duduk di sofa, laptop terbuka di depannya, dokumen berserakan, tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaan. Ia terus menatap Gladis yang sedang menyiapkan sarapan untuk Harsha. Gladis bergerak dengan hati-hati, setiap langkah terasa lebih pelan karena bekas luka operasi masih menyakitkan. Namun matanya bersinar, penuh tekad untuk tidak menunjukkan rasa lelah pada Harsha maupun Alfito. Ia menyuapi Harsha dengan pelan, memperhatikan setiap gerakan kecil bayi itu, memastikan ia nyaman dan aman. “Dis… aku harus bilang sesuatu,” suara Alfito tiba-tiba memecah keheningan. Gladis menoleh, menyeka mulu

