Pagi datang dengan langkah pelan, menyelinap lewat sela gorden kamar Gladis dan Alfito. Udara masih dingin, dan suara napas Harsha yang teratur menjadi irama lembut yang menenangkan. Gladis terbangun lebih dulu, menatap langit-langit beberapa detik sebelum matanya beralih ke Alfito yang masih terlelap di sisinya. Wajah pria itu terlihat lelah, garis tipis di dahinya menjadi bukti beban yang ia pikul belakangan ini. Gladis bangkit perlahan agar tidak membangunkan Harsha. Ia melangkah ke dapur, menyiapkan air hangat dan sarapan sederhana. Pikirannya masih dipenuhi pertemuan kemarin dengan orang tua Alfito. Meski mereka menunjukkan penerimaan, Gladis tahu ujian belum selesai. Penerimaan itu bukan akhir, melainkan awal dari pembuktian yang lebih panjang. Tak lama kemudian, Alfito muncul di a

