Malam itu hujan turun tanpa suara keras, hanya rintik yang menempel di jendela rumah mereka. Gladis duduk di tepi ranjang Harsha, memperhatikan d**a kecil putranya yang naik turun dengan ritme pelan. Setiap napas masih membuatnya waspada, seolah tubuh mungil itu bisa berhenti kapan saja jika ia lengah. Di sudut kamar, Alfito berdiri menyandarkan punggung ke lemari, menatap pemandangan yang sama dengan perasaan campur aduk antara syukur dan cemas yang tak pernah benar-benar pergi. “Kamu belum tidur juga?” tanya Alfito pelan. Gladis menoleh. “Aku mau pastiin dia bener-bener nyenyak.” “Dis,” Alfito mendekat dan duduk di sampingnya, “kamu juga butuh istirahat. Harsha aman. Kita semua aman malam ini.” Gladis mengangguk, tapi matanya masih menatap Harsha. “Aku takut kalau aku lengah sedikit

