Pagi itu sinar matahari masuk pelan lewat celah tirai, membuat kamar terasa lebih hangat dari biasanya. Harsha baru saja bangun, matanya membuka sedikit, lalu menatap sekeliling seperti sedang mencari sesuatu. Gladis yang sudah memegang botol s**u tersenyum melihat ekspresi anaknya. “Pagi, Nak… mata kamu udah lebih cerah hari ini,” ucap Gladis sambil mengelus kepala kecil Harsha. Alfito ikut duduk di sisi tempat tidur, rambutnya masih berantakan karena kurang tidur. “Papa ada di sini juga. Kamu tidur lumayan lama lho, Nak. Papa hampir kangen,” katanya sambil meregangkan badan. Harsha tidak mengerti satu pun kata-kata itu, tapi ia terlihat menikmati suara lembut kedua orang tuanya. Saat Gladis mendekatkan botol s**u, Harsha mendadak mengangkat tangannya yang mungil dan memukul pelan d**a

