Sore itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Harsha sudah menunjukkan tanda-tanda rewel sejak siang, tapi sekarang tangisnya semakin sering, semakin keras, dan semakin… tidak bisa diprediksi. Gladis duduk di sofa sambil menggendong bayi mungil itu, mengayun pelan, mencoba menenangkan. Namun Harsha tetap menggeliat, wajahnya memerah, napasnya pendek-pendek seperti ingin mengeluh tapi belum bisa bicara. “Harsha… sayang… kenapa? Laper? Sakit? Ngantuk?” bisik Gladis sambil mencium ubun-ubunnya. Alfito keluar dari dapur dengan wajah panik berlebihan. Rambutnya basah karena beberapa kali ia mengusap wajahnya sendiri. “Glady! Susunya kurang hangat apa terlalu hangat? Atau dia kedinginan? Atau aku harus nyalain humidifier? Atau—” “Fito.” Gladis menatapnya datar. “Tenang. Ini growth spurt. D

