Malam itu rumah terasa lebih hening dari biasanya. Bukan hening yang damai, tapi hening yang penuh tanda tanya—seperti rumah sedang menahan napas menunggu siapa yang akan menang duluan: rasa mengantuk Gladis, rasa panik Alfito, atau tangisan Harsha yang sejak sore tidak pernah benar-benar berhenti. Jam menunjukkan pukul dua belas lewat sedikit ketika tangisan itu pecah lagi. Gladis yang baru saja menutup mata selama tiga menit langsung terlonjak duduk. Sementara di sisi lain kasur, Alfito bangun dengan cara paling dramatis yang pernah terjadi. Ia bangun sambil menjerit kecil, seperti habis mimpi dikejar setan. “Dia nangis lagi?! Ya Tuhan aku baru merem satu detik!” “Itu namanya tidur, Fito,” gumam Gladis dengan suara parau. “Dan ya… dia nangis lagi.” Harsha menangis kencang dari boks k

