Jantung Gladis serasa hendak meledak. Langkah-langkah pelan terdengar mendekati teras. Setiap detik berjalan terlalu lambat, tapi sekaligus terlalu cepat untuk memberi waktu bernapas. Ia memegang perutnya yang semakin kencang, mencoba menenangkan bayinya meski tubuhnya sendiri gemetar hebat. Tirai ruang tamu bergoyang sedikit karena angin, lalu suara ketukan muncul. Satu kali. Kemudian dua kali. Pelan, tapi sangat jelas. “Gladis?” suara seorang laki-laki memanggil dari luar, nadanya seperti seseorang yang sudah lama menunggu momen ini. Gladis mundur selangkah, napasnya tercekat. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu pernah mengisi hari-hari remajanya, suara yang dulu ia kira membawa kebahagiaan. Suara yang setelah semua kejadian itu… berubah menjadi kenangan paling gelap dalam hidupny

