Malam semakin larut saat Alfito membawa Gladis ke rumah sakit. Hujan belum menunjukkan tanda berhenti, membuat jalanan tampak licin dan suram. Di pangkuannya, Gladis terbaring lemah dengan napas yang tak stabil. Alfito memegang tangannya erat, seolah takut jika dilepas sedikit saja, istrinya akan menghilang. Begitu sampai, perawat segera menangani Gladis. Dokter memeriksa kondisinya dengan teliti sementara Alfito menunggu di luar ruang periksa, mondar-mandir dengan wajah tegang. Sesekali ia meremas rambutnya sendiri, mencoba menahan rasa bersalah yang menggerogoti hati. Kalau saja ia tidak memaksa Gladis bekerja di perusahaan. Kalau saja ia lebih cepat mengantisipasi serangan dari Laura. Kalau saja ia bisa melindunginya sejak awal. Pintu ruang periksa terbuka. Dokter keluar dengan raut

