Pagi datang dengan langit kelabu. Rumah sakit masih dipenuhi aroma obat dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Gladis tertidur pulas, wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada semalam. Alfito berdiri di sampingnya, memandangi istrinya dengan sorot yang lembut namun penuh kegelisahan. Ia menyelipkan rambut Gladis yang sedikit berantakan ke belakang telinga. “Aku pergi sebentar ya,” bisiknya. “Aku janji akan kembali sebelum kamu bangun.” Gladis tidak menjawab, namun tangannya menggenggam selimut seperti sedang mencari rasa aman. Itu cukup bagi Alfito untuk memperjelas tekadnya. Ia mengecup kening istrinya lalu melangkah keluar. Sopir sudah menunggu di lobby, namun Alfito memilih menyetir sendiri. Ia butuh ruang untuk melepaskan pikirannya yang menumpuk. Selama perjalanan ke kantor,

