Pagi itu rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Gladis terbangun dengan rasa yang berbeda, rasa yang membuat dadanya hangat dan tangannya refleks menyentuh perutnya meski masih datar. Ada senyum kecil yang tak bisa ia tahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mata dan berharap hari ini berjalan lebih lama daripada biasanya. Di dapur, Alfito sudah sibuk menyiapkan sarapan. Wajahnya terlihat segar, tapi ada kantung hitam di bawah matanya yang menunjukkan ia hampir tidak tidur semalaman. Bukan karena lelah menjaga Gladis, tapi karena pikirannya dipenuhi satu hal: bagaimana melindungi keluarga barunya. Gladis menghampirinya pelan, memeluk punggungnya dari belakang. “Pagi…” Alfito tersenyum sambil menoleh. “Pagi, ibu kecil.” Gladis mendengus pelan. “Jangan panggil aku it

