Siang itu cuaca tampak cerah, tapi suasana hati Gladis justru berkebalikan. Sejak menerima pesan misterius tadi pagi, kepalanya dipenuhi bayangan-bayangan buruk yang membuatnya sulit menarik napas dengan tenang. Ia duduk di sofa, selimut tetap melingkari kakinya. Mochi dan Snow seolah tahu ia sedang tidak baik-baik saja, keduanya terus berada di dekat Gladis tanpa banyak bergerak. Alfito bolak-balik di ruang tamu, memegang ponselnya dengan wajah kaku. Ia tengah menghubungi seseorang yang sudah ia percayai sejak lama, seseorang yang dulu bekerja sebagai penyelidik pribadi perusahaan ayahnya. “Aku nggak peduli caranya, aku cuma mau kamu cari orang ini. Lacak siapa pun yang ganggu Gladis. Aku tunggu kabarnya,” suaranya rendah namun penuh ancaman sebelum ia memutus panggilan. Ketika ia berb

