Malam datang lebih cepat dari biasanya. Awan gelap menggantung rendah, seolah mengawasi setiap sudut rumah itu. Di ruang keluarga, hanya lampu kecil yang menyala, memberikan cahaya temaram yang justru menambah rasa tegang. Gladis duduk memeluk bantal, sesekali menatap jam dinding. Sudah hampir dua jam sejak Alfito pergi menemui seseorang yang ia sebut hanya sebagai kenalan lama. Dan setiap menit yang berlalu membuat dadanya semakin berat. Mochi melompat ke pangkuannya, mengeong pelan seolah mencoba menenangkan pemiliknya. Snow duduk di lantai, ekornya bergerak resah. “Aku baik-baik aja,” bisik Gladis, meskipun ia sendiri tidak percaya pada ucapannya. Ponselnya bergetar. Ia langsung meraihnya dengan cemas, berharap melihat nama Alfito di layar. Namun pesan itu justru datang dari nomor ta

