Pagi datang tanpa suara bahagia. Tidak ada canda ringan atau aroma sarapan yang menenangkan. Alfito terbangun lebih cepat dari biasanya, sementara Gladis masih terlelap dengan wajah yang menunjukkan ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Lingkar hitam di bawah matanya membuat Alfito semakin yakin bahwa situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Ia mengecup kening Gladis pelan. “Aku bakal lindungin kalian,” bisiknya, meski Gladis tak mendengarnya. Setelah memastikan Mochi dan Snow tetap menjaga Gladis dengan setia, Alfito menuju ruang kerjanya. Ia menyalakan komputer dan membuka folder yang sudah semalaman ia kumpulkan dari kenalannya. Foto-foto, laporan transaksi, riwayat pindah kota, semua mengarah ke nama yang sama. Dion Lelaki dengan masa lalu kelam yang tidak pernah benar-benar terkub

