Hari itu berjalan lambat seperti jam pasir yang tersumbat. Gladis mencoba bekerja dari rumah sesuai saran dokter, namun pikirannya terus melayang ke arah pria misterius yang berdiri tadi pagi di depan rumah. Setiap kali ia menggerakkan mouse komputer, pikirannya kembali ke tatapan dingin yang terasa seakan menusuk jantungnya. Ia mengelus perutnya yang kini mulai menunjukkan bentuk jelas. “Kita aman di sini,” bisiknya, meski ucapan itu lebih terdengar seperti doa. Alfito tidak pernah jauh dari pandangan Gladis. Sesekali ia mengangkat telepon, berbicara dengan nada rendah namun serius tentang keamanan dan penyelidikan. Wafa juga masih di rumah, untuk memastikan Gladis tidak merasa sendiri. Mochi dan Snow seakan ikut membaca suasana, tak pernah meninggalkan sisi Gladis. Menjelang siang, be

