Perjalanan menuju rumah orang tua Gladis terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Mobil melaju stabil di jalan antar kota yang mulai dipenuhi pepohonan rindang. Di dalam kabin, suasana cenderung sunyi, bukan karena canggung, tapi karena masing-masing sedang tenggelam dalam pikiran sendiri. Gladis duduk di kursi penumpang, tangannya saling bertaut di pangkuan. Sejak pagi, perasaannya campur aduk. Antara gugup, takut, dan sedikit harap. Ini bukan pertama kalinya ia pulang ke rumah orang tuanya, tapi ini pertama kalinya ia membawa Alfito dengan tujuan yang tidak lagi sekadar perkenalan biasa. Alfito melirik sekilas ke arah Gladis. Wajah perempuan itu terlihat tenang, tapi ia tahu betul tanda-tanda ketika Gladis sedang cemas. Cara jari-jarinya saling menekan, cara bahunya sedikit menegang.

