Malam itu hujan turun pelan, menampilkan titik-titik air di kaca mobil yang mereka naiki. Kota terlihat seperti dipenuhi cahaya yang kabur, seakan segala sesuatu yang keras dalam hidup ikut melembut sebentar. Begitu sampai di rumah, Gladis duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Tugas hari ini mungkin sudah selesai, tapi beban pikirannya belum ikut menghilang. Alfito datang membawa secangkir cokelat hangat. “Minum ini dulu. Kamu butuh istirahat.” Gladis menerima cangkir itu, menghirup aroma manisnya. “Aku takut kalau besok aku mulai kewalahan. Laura kayaknya nggak suka aku ada di sana.” “Dia nggak harus suka kamu. Kamu ada di sana buat kerja dan buat masa depan kamu sendiri.” Alfito duduk di sampingnya, menatap wajah Gladis yang terlihat lelah. “Kamu cuma perlu buktiin kamu pantas di p

