Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Gladis terbangun dengan perasaan yang aneh, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak matahari belum sepenuhnya naik. Ia menoleh ke samping, menatap Alfito yang masih terlelap dengan napas teratur. Wajah lelaki itu tampak lebih tirus dibanding beberapa bulan lalu, garis lelah semakin jelas, namun tetap menyimpan ketenangan yang entah kenapa selalu berhasil membuat Gladis merasa sedikit lebih kuat. Gladis bangkit perlahan agar tidak membangunkan Alfito. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk perutnya sendiri meski kini tak lagi membuncit seperti dulu. Ada rasa kosong yang sering datang tiba tiba, terutama di pagi hari. Ia berjalan ke arah jendela, membuka sedikit tirainya, membiarkan cahaya pucat masuk ke dalam kamar. Di luar, dunia

