“Zivaaa!” Laras setengah berteriak saat melihat sahabatnya di dekat pintu masuk kafe. Spontan mereka berdua saling berpandangan lalu sama-sama menurunkan ponsel yang semula menempel di telinga masing-masing. Detik berikutnya, mereka saling mempercepat langkah lalu berpelukan erat, menumpahkan rindu yang telah lama terpendam. Pelukan itu berlangsung cukup lama, seolah waktu berhenti, sebelum akhirnya perlahan mereka saling melepaskan satu sama lain. “Ngomong-ngomong kamu ke sini sama siapa? Sendirian?” tanya Laras seraya menggandeng tangan Ziva menuju kursi tempat ia dan Elric duduk sebelumnya. “Sama manajerku.” “Mana dong? Suruh masuk aja nggak apa-apa.” “Dia pengennya, sih, ikut gabung. Sayangnya dia ada urusan. Makanya cuma anterin aja, terus pergi lagi.” Laras mengangguk-angguk. “

