Mobil hitam yang Helmi bawa berhenti tepat dipinggir jalan. Di sebrang jalan sana, ada pagar berwarna emas yang menjulang cukup tinggi. Terlihat sangat jelas jika rumah mewah berlantai dua itu sangat sepi. Bahkan seluruh jendela tertutup gorden dengan sangat rapat. Tepat didepan pagar itu, ada beberapa orang yang bisa dipastikan jika mereka ini adalah wartawan dari beberapa awak media. Shanaz mendengus kasar, membuka kaca mobil, mengamati rumah itu dengan seksama. “Sepi banget, om. Keknya disana nggak ada orang ya. Tapi ... bisa jadi lho, mereka ndekem tuh didalam. Ngindari para wartawan itu.” Helmi ikut menatap disebrang jalan sana. “Saya coba hubungi pengacaranya pak Derta.” Merogoh ponselnya yang disimpan disaku jas, mengusap layar tipis itu, lalu menempelkan ditelinga. Cukup lama, h