“Ok, kita akan menikah.” Mendengar jawaban yang memang sangat dia tunggu, wanita cantik ini beranjak dari duduknya. Tersungging senyum dibibir manis yang terlapisi lipstik warna merah tua itu. “Kamu yakin, El?” tanyanya meyakinkan yang ia dengar. Diam untuk beberapa menit, lalu terdengar helaan nafas kasar dari Ello. “Ya, gue akan nikahin lo.” Senyum Hanin makin melebar. “Baiklah. Aku tunggu di rumahku, nanti jam empat. Kita langsungkan pernikahannya disana. Lalu ... aku akan mengikutimu kembali ke Jakarta.” Menutup telpon, merem dalam dengan tangan yang menggenggam erat ponsel. Setetes air mata jatuh membasahi pipi. Cepat ia mengusapnya kasar. “Maafkan aku, mas. Aku terpaksa lakuin ini. Karna kamu sudah membuangku. Kamu melupakan janjimu untuk menjadikanku pendamping hidupmu sampai