“Pergi kamu! Aku nggak mau lihat kamu!” seru Tere dengan suara lemah Walau memang tak berteriak kencang, tapi cukup menandakan jika dia sedang dalam keadaan marah dan nggak baik-baik aja. Ello yang masih bingung nggak ngerti apa-apa, diam. Membeku ditempat, enggak pergi, nggak lagi mendekat. Hanya menatap istrinya yang terus saja menangis. Nggak tau juga dia nangisi apa. “Kamu jahat, El. Kamu jahat ....” Tere menutup wajah dengan kedua tangan. Ello menyugar rambut, membuang nafas kasar. Kembali berjalan mendekti ranjang, lalu memencet tombol yang terletak diatas ranjang pesakitan. Diam menatap istrinya yang terisak. Pikirannya sibuk menerka-nerka yang tak ia ketahui. Beberapa menit berlalu, Tere membuka wajah, mengusap sisa embun dikedua mata. Bibirnya manyun saat melihat Ello masih