"Kemana si Tama?" gumam Renan yang masih setia menunggu Tama di dalam apartemennya. Sembari menunggu Tama, Renan meraih ponselnya yang ada di dalam saku celana. Berniat menghubungi Yuna, ternyata wanita itu sudah lebih dulu mengirimi pesan padanya. Sudut bibir Renan tertarik memberikan senyum lebarnya. Moodnya yang sedang tidak baik- baik saja menjadi baik karena hanya satu pesan Yuna yang terpampang di ponsel miliknya, sebuah kemajuan bukan? Jemari Renan pun bermain di atas layar untuk membalasnya pesan dari Yuna. Renan: Aku udah sampai kok. Baru aja mau hubungi kamu, eh ternyata kamu duluan, khawatir ya? Yuna: jangan pede mas. Renan terkekeh pelan membaca balasan dari Yuna. Sejak dulu sampai sekarang dia selalu saja gengsi untuk mengakui duluan. Renan: kirain kangen, padahal aku

