Renan mempererat pegangan pada setor mobil. Ia mendapatkan kabar jika eyangnya berada di rumahnya dan ingin menemuinya. Pikiran Renan campur aduk saat ini, ingin sekali rasanya dia marah pada eyang karena telah membohonginya selama ini. Hingga ia menyuruh Yuna untuk pindah dari kampungnya sendiri. Rahang Renan sudah mengeras, matanya memerah, tatapannya begitu tajam melihat ke depan. Ia segera membelokkan mobilnya masuk ke dalam perkarangan rumah orang tuanya. Namun, saat akan keluar, ponselnya berbunyi terlihat nama Tama di sana. Awalnya Renan tidak mau mengangkat telponnya. Tapi, entah kenapa feelingnya mengatakan jika ini hal penting. Akhirnya Renan menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Halo..." (Eyang lu ada di rumah kan?) "Kenapa lu bisa tahu?" (Nyokap lu nelpon gua, inget

