Eman atau Nalendra berdiri di depan pintu ruangan Amanda lebih lama dari yang seharusnya. Tangannya terangkat, lalu turun lagi. Napasnya tidak beraturan. Setiap detik terasa seperti hukuman yang ditunda. Ia sudah terbiasa menghadapi bahaya, ancaman, bahkan kematian. Tapi menghadapi Amanda dalam kondisi seperti ini… itu jauh lebih menakutkan. Ia mengetuk pelan. Tok… tok… “Masuk,” suara Amanda terdengar dingin, formal. Bukan suara perempuan yang dulu memanggil namanya dengan nada manja. Nalendra menelan ludah. Ia membuka pintu dan melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, sepenuhnya berperan sebagai OB bernama Eman. Topi hitam menutupi sebagian wajahnya, jaket lusuh menggantung di tubuhnya. “Permisi, Ibu, manggil saya?” ucapnya pelan. Amanda berdiri dari kursinya. Tatapannya taj

