Amanda menaruh ponselnya di atas meja setelah membalas pesan Rangga. Jemarinya sempat terdiam di layar, seolah ada sesuatu yang tertahan di dadanya. Entah kenapa, setelah OB itu keluar, ruangan terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih berat. Ia menghela napas pelan, lalu kembali duduk di kursinya. Teh hangat di cangkir masih mengepulkan uap tipis. Amanda menyesapnya perlahan. Rasanya pas. Tidak terlalu manis. Persis seperti caranya menyukai teh sejak dulu. Amanda berhenti. Alisnya mengernyit. Ia menurunkan cangkir perlahan, menatap cairan bening kecokelatan itu dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. “Kok bisa pas, ya?” gumamnya lirih. Rahman dulu sering salah menakar. Terlalu manis atau hambar. Tapi OB baru itu… seolah tahu. Amanda menggeleng kecil, menepis pikirannya sendiri. Mungkin hany

