Setelah Nalendra berhasil menaruh beberapa alat perekam di titik-titik yang sudah ia hafal di luar kepala, tersisa hanya satu ruangan lagi. Ruangan terakhir itu justru menjadi yang paling berat baginya. Ruangan Amanda. Ia berhenti sejenak di dapur OB, ruangan kecil yang selalu sepi di jam-jam tertentu. Tangannya gemetar ringan saat mengambil gelas, menuangkan kopi panas dari termos besar yang sudah agak kusam. Aroma kopi menguar, pahit dan hangat, namun tak mampu menenangkan dadanya yang terasa sesak. Nalendra menghela napas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak tadi tak mau tunduk. Baru saja ia mengangkat gelas itu ke bibir, telepon dapur berdering nyaring, memecah kesunyian. Nalendra tersentak. Kring....Kring Ia menatap pesawat telepon itu beberapa detik, seolah ragu

