Satu minggu setelahnya. Siang itu telah lama berlalu, dan malam menutup Darwis Group dengan kesunyian yang terasa ganjil. Jam di ponsel Amanda menunjukkan pukul sepuluh tepat ketika ia akhirnya melangkah keluar dari lift menuju lobby utama. Gedung tinggi itu sudah hampir kosong, hanya menyisakan lampu-lampu putih yang memantul di lantai marmer dan suara langkah kaki satpam yang sesekali berpatroli. Amanda menghentikan langkahnya ketika mobil dinas berhenti tepat di depan pintu putar. Pak Imam turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan sikap hormat yang sudah puluhan tahun ia jaga. “Pak Imam,” ucap Amanda pelan namun tegas, “saya mau ada urusan sebentar. Mobilnya langsung bawa pulang ke rumah saja.” Pak Imam sempat tampak ragu. Jam segini biasanya Amanda tak pernah bepergian sendiri

