Satu hari telah berlalu sejak Nalendra menyelamatkan Amanda dari gerombolan penjahat, dia berada di kontrakan sempit di pinggiran kota. Ruangan itu tak lebih dari tiga kali empat meter, dindingnya lembap, catnya mengelupas di beberapa bagian. Namun bagi Nalendra, tempat itu adalah satu-satunya ruang aman yang ia miliki saat ini, tempat ia bisa bernapas tanpa bayang-bayang kematian palsu yang telah disematkan pada namanya. Di atas kasur tipis yang berderit setiap kali ia bergerak, Nalendra duduk bersila. Di tangannya, beberapa lembar uang lusuh ia hitung berulang kali, seolah berharap jumlahnya bisa bertambah hanya dengan ditatap lebih lama. “Seratus… seratus lima puluh… dua ratus ribu,” gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kontrakan yang dipenuhi noda hitam b

