Bab 1
"Umhh!" Suara lenguhan terdengar dari mulut wanita yang kini dibawah kendali pria yang dicintainya.
"Rey—
Suaranya bahkan tertahan karena kekasihnya ini sudah mulai mempermainkannya.
"Rey. Stop! Kau akan kelepasan nanti." Ucap Grace yang menggigit bibir bawahnya. Bahkan bukan hanya kekasihnya, jika sudah begini. Dia sendiri juga mungkin akan kelepasan dan tidak bisa menolaknya.
"Satu minggu lagi kita sudah akan menikah. Aku rasa tidak masalah jika kita melakukannya sekarang, Sayang." Reyhan merasa dirinya sudah tidak terkendali. Dia bahkan menatap wajah kekasihnya dengan tatapan sayu dan berharap jika kekasihnya kini tidak menolaknya.
"Bagaimana jika aku yang membatalkannya." Godanya yang membuat Reyhan menghentikan aktifitasnya sebentar.
"Aku mendapatkanmu sangat sulit, bahkan setelah mendapatkanmu, hatimu belum sepenuhnya milikku, aku memiliki ragamu namun aku tau jika hatimu masih memiliki rasa di masa lalumu. Saat aku sudah mendapatkan hatimu. Aku tidak akan pernah bisa lagi membuatmu pergi dariku apapun yang terjadi. Kau milikku!" Ucap Reyhan dengan posesif.
Grace tersenyum dengan perkataan kekasihnya yang sudah sabar menunggu hatinya benar-benar menerimanya selama hampir 2 tahun ini. Hatinya akhirnya luluh dan mencintainya melihat kesabaran dan ketulusan cintanya kepadanya.
"Hm, aku juga mencintaimu. Terima kasih sudah bersabar selama ini. Bukan hanya dirimu, tapi kau juga milikku. Aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Grace yang membuat Reyhan tersenyum.
"Kalau begitu jangan menghentikanku saat ini karena aku tidak bisa menahannya! Aku ingin kau sepenuhnya menjadi milikku dan aku akan memastikan itu." Ucapnya yang kembali meraih bibir Grace.
Dia akhirnya pasrah dan mengizinkannya, selain dia juga tidak bisa menahannya, dia juga ingin memberikan hadiah untuk buah kesabaran pria yang satu minggu lagi akan menjadi suaminya ini.
Suara lenguhan di kamar apartemen Reyhan kini terdengar nyaring dari keduanya. Mereka terlalu terbakar hasrat dan gairah yang membuat keduanya benar-benar tidak bisa menahannya.
"Aah! Rey—
"Hm, kau benar-benar nikmat, Sayang."
Tubuh Reyhan memacu dengan cepat ketika miliknya sudah tertanam habis di sana. Bahkan setelah proses panjang. Dia kini bisa mendengar suara indah dari Grace yang menyebut namanya.
Rencana hanya melepas rindu karena sudah hampir satu minggu tidak bertemu. Kini pertemuan mereka pecah dan akhirnya Grace memberikan tubuhnya kepada Reyhan seutuhnya meskipun dia bukan yang pertama baginya.
Bahkan suara lenguhan itu baru berakhir saat beberapa jam kemudian dan Grace sudah kelelahan akibat bringasnya calon suaminya.
Dia bahkan langsung tertidur yang membuat Reyhan tersenyum melihatnya.
"Aku sangat mencintaimu, Grace! Aku berharap tuhan membuatmu selalu bahagia." Ucap Reyhan yang memandangi Grace dengan penuh cinta.
Dia benar-benar mencintai Grace meskipun memang dia sudah tau sejak awal jika kegadisannya bukan yang pertama bagi Reyhan. Dia tidak mempermasalahkannya karena cintanya sudah menutupi semuanya.
Dia mencium kening Grace dan akhirnya membawa tubuh polosnya dalam pelukannya. Dia benar-benar mencintainya meskipun dulu dia tau jika hatinya tidak ada dirinya melainkan orang lain.
*****
Keesokkan paginya. Grace di antar pulang oleh kekasihnya, meakipun jalannya sedikit tidak nyaman karena sekian lama dia sudah tidak melakukannya. Tapi dia harus pulang sebelum orang tuanya mengomelinya.
"Kau tau aku akan dimarahi oleh Mama-mu karena membawamu bahkan menginap semalam." Ucap Reyhan terkekeh.
"Dia akan lebih marah ketika tau ternyata calon menantunya ini sudah mendahului dan mencicil benihnya di dalam." Sindirnya namun Reyhan lagi-lagi hanya tertawa.
"Aku akan mengantarmu sampai ke dalam dan menjelaskannya sebelum aku pergi meting." Ucap Reyhan namun Grace menggeleng.
"Tidak perlu. Kau langsung pergi saja. Aku tau kalau kau sudah terlambat." Ucap Grace.
"Kau yakin, Sayang?" Tanya Reyhan yang di angguki oleh Grace.
Reyhan tersenyum dan akhirnya benar-benar langsung pergi dari sana karena memang dia harus meting dengan beberapa jajaran petinggi.
Saat masuk, Grace menggaruk dahinya karena ibunya sudah menunggunya diruang tengah.
"Mama kenapa melihatku seperti itu sih!" Tegurnya karena salah tingkah.
"Sudah mama bilang, kau dan Reyhan jangan bertemu dulu selama dua minggu sebelum pernikahan, tapi kalian bandel sekali." Omelnya namun Grace terkekeh.
"Aku kasihan dengannya, Ma! Dia tidak bisa makan dan tidur karena tidak bertemu denganku selama satu minggu ini." Ucapnya sebagai alasan.
"Itu modusnya saja, Ck! Kau ini begitu saja tidak tau." Ucap Megie sang ibu.
Grace hanya tersenyum dan memeluk tubuh ibunya,
"Sebentar lagi aku akan menikah dengannya, Ma! Aku sangat bahagia. Jangan marah ya." Ucap Grace yang sebenarnya merayu ibunya agar tidak mengomelinya lagi.
Magie hanya menghela nafas panjangnya, dia sebenarnya bukan melarang, namun konon katanya memang sepasang pengantin tidak diperbolehkan untuk bertemu atau keluar lebih dulu selama dua minggu lamanya agar saat pernikahan semuanya akan lancar tanpa kendala.
Jika sudah terlanjur seperti ini, Magie hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk semuanya.
Sedangkan ditempat lain, Reyhan sudah sampai di restoran, dia sedikit terkejut jika di sana ternyata ada pria yang dia kenal. Begitupun dengan pria itu, namun mereka seperti sama-sama profesional dan bersalaman seperti biasa.
Meting mereka cukup lama sampai hampir tiga jam barulah mereka menyelesaikannya.
Saat selesai, Reyhan menyusul priaa yang dikenal olehnya karena langsung pergi dari sana.
"Tuan Alexavier." Panggil Reyhan yang membuat Xavier menghentikan langkahnya.
"Aku baru tau jika anda sahabat dari Tuan Marvin," ucap Reyhan.
"Saya hanya mewakilinya karena dia tidak bisa hadir. Dan saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Jika ada yang anda bicarakan soal pekerjaan. Anda bisa menghubungi asisten Marvin. Permisi." Xavier langsung ingin pergi dari sana namun Reyhan lagi-lagi mencegahnya.
"Aku tidak merasa memiliki masalah dneganmu tapi sikapmu menunjukkan kau membenciku." Ucap Reyhan yang membuat Xavier terdiam.
"Ingat jika aku tidak merebutnya darimu. Tapi keluargamu sendiri yang menolaknya. Cintamu terlalu lemah sehingga kau bisa kehilangannya. Jadi jangan salahkan siapapun jika orang lain yang membahagiakannya." Ucap Reyhan yang membuat Xavier mengepalkan tangannya namun tidak bisa menjawabnya.
"Satu minggu lagi aku dan Grace akan menikah, jika kau berkenan. Kau bisa datang ke pesta pernikahan kita." Lanjutnya sambil memberikan sebuah undangan yang sebenarnya membuat Xavier terkejut.
"Aku mengundangmu tidak bermaksut apapun, tapi kau memang harus melupakannya. Maafkan aku. Tapi dia milikku sekarang. Aku harap kita semua bisa berteman tanpa adanya permusuhan karena masa lalu." Ucap Reyhan lalu pergi dari sana.
Reyhan tau jika Xavier masih sangat mencintai calon istrinya, karena dia beberapa kali pernah memergoki Xavier membuntutinya dan Grace saat mereka keluar bersama, namun dia hanya diam saja dan tidak menegurnya, untuk itu kebetulan dia bertemu dengannya dan dia memang harus memperlihatkan undangannya agar dia tau jika dirinya dan Grace sudah akan menikah dan bersama selamanya.
Xavier hanya bisa memandanginya lalu melihat undangan yang diberikan oleh Reyhan. Dia mengepalkan tangannya dengan erat namun lalu membuangnya, Hatinya benar-benar terluka dan sepertinya memang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk kembali kepada Grace.
Xavier pergi dari sana dan memutuskan untuk pulang. Melihat undangan di mana nama Grace di sana bersama pria lain membuat Xavier benar-benar sakit hati.