Pyarrr!!
Suara pecahan kaca membuat wanita paruh baya langsung menghampiri kamar putranya.
"Xavier!" Helen sang ibu sangat shock melihat kamar putranya berantakan dan bahkan banyak botol pecah sehingga membuat tangan Xavier berdarah.
"A-ada apa, Nak." Helen bahkan terbata dan baru kali ini melihat putranya sangat hancur seperti ini.
"Ada apa?" Robert sang ayah juga menghampiri kamar putranya karena mendapatkan aduhan dari pelayan jika ada suara pecahan dari kamar Xavier. Dia sendiri juga ikut shock ketika menghampiri kamar putranya dan melihat semua ini.
"Ini semua karenamu, Mom! Jika saja sedari awal kau menyetujui hubunganku dengan Grace, sudah pasti yang menikah dengannya adalah aku. Bukan pria lain." Ucap Xavier yang mabuk namun tersadar, dia melemparkan undangan yang sedari tadi digenggam olehnya. Undangan itu sangat menyakitkan hatinya.
Robert melihatnya dan mengerti kehancuran putranya karena dia sendiri tau bagaimana Xavier sangat mencintai Grace. Namun ketidaksetujuan istrinya membuat Grace menyerah dan meninggalkan Xavier.
"Apa yang kau katakan, Sayang." Helen sudah menangis karena putranya benar-benar kacau.
"Aku sangat mencintai Grace. Mom! Aku benar-benar mencintainya. Aku pernah mengatakan itu kepada kalian." Ucap Xavier.
"T-tapi dia tidak pantas untukmu, dia tidak berpendidikan dan—
"Lalu wanita yang bagaimana yang pantas untukku? Wanita ja lang yang Mommy kenalkan kepadaku dan akhirnya membuat hubunganku dengan Grace hancur? Dia bahkan lebih rendah dari orang yang tidak berpendidikan." Ucapnya. Matanya memerah karena menahan amarahnya.
"Starla sangat mencintaimu. Dia juga wanita yang terbaik untukmu. Dia sempurna. Kau hanya perlu selalu berdekatan dengannya maka kau akan tau jika dia adalah wanita yang tepat." Ucap Helen yang masih membela wanita pilihan yang menurutnya tepat untuk Xavier.
"Kalau begitu kenapa tidak kau nikahkan saja dia dengan Daddy jika dia adalah wanita yang baik dan sempurna." Ucap Xavier.
"Xavier!" Robert geram dengan perkataan putranya yang sudah mulai melantur. Sedangkan Helen juga semakin shock dengan perkataan putranya.
Xavier terdiam dan tidak memperdulikan mereka, dia terus meminum minumannya namun Robert mengambilnya.
"Kenapa kau begini? Dia sudah menjadi milik orang lain. Tidak ada yang perlu di sesali saat ini. Kau harus melupakannya dan membuka hatimu untuk wanita lain nantinya." Ucap Robert namun Xavier tersenyum miring.
"Aku dulu pria brengsekk! Grace yang merubahku. Dia cinta pertamaku dan sudah kujanjikan akan yang menjadi terakhir dalam hidupku, jadi. Aku tidak akan pernah menikahi wanita manapun jika bukan dengannya." Ucap Xavier yang membuat kedua orang tuanya semakin shock dengan apa yang dikatakan oleh putranya.
"Apa-apaan dengan perkataanmu itu, Xavier! Kau tidak akan bisa mendapatkannya karena dia akan segera menikah. Dia melanjutkan hidupnya maka kau juga harus melanjutkan kehidupanmu." Ucap Robert yang tidak setuju dengan perkataan Xavier,
Sedangkan Helen hanya bisa menangis, dia tidak menyangka jika penentangannya terhadap hubungan putranya dulu bersama Grace akan berdampak seperti ini. Padahal dia sudah lega ketika Xavier sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Grace sehingga Starla memiliki banyak kesempatan untuk mendekatinya, namun bertahun-tahun lamanya, Starla tidak berhasil merebut hati Xavier dan malah ternyata Xavier masih memikirkan Grace.
"Melanjutkan hidup?" Beo Xavier sambil tertawa.
"Hidup yang seperti apa? Yang hancur seperti ini? Kalian mematahkan hati putramu sendiri hanya karena ego kalian." Lanjutnya yang membuat keduanya akhirnya terdiam.
"Pergilah! Aku ingin sendiri." Ucap Xavier memgusir orang tuanya.
"Sayang, maafkan Mommy. Mommy hanya—
"Akan lebih baik jika Mommy tidak mengatakan apapun yang membela diri karena setiap perkataanmu melukai hatiku. Bagaimana bisa ada ibu yang tidak memperdulikan kebahagiaan anaknya dan malah memaksa dia meninggalkan kebahagiaannya." Ucap Xavier.
Kata-katanya semakin menusuk hati Helen, dia menjadi menyesal karena dulu sudah menolak Grace dan bahkan sering menghinanya hanya karena dia tidak lulus kuliah.
Robert meminta istrinya untuk keluar terlebih dahulu karena dia ingin berbicara dengan Xavier.
Helen memandangi putranya yang bahkan tidak mau melihat ke arahnya dan malah pergi ke balkon kamarnya.
Robert menghampiri Xavier karena sejujurnya dia dulu tidak pernah mempermasalahkan hubungan Xavier dengan Grace. Hanya saja memang dulu dia jarang sekali di mansion dan lebih banyak diluar kota. Untuk itu dia tidak tau jika istrinya sangat menentang hubungan putranya.
"Xavier. Kau tidak bisa seperti ini. Grace sudh bahagia dengan—
"Asal Daddy tau, saat dia menerima calon suaminya ini, hatinya masih ada diriku, aku bisa melihat dari matanya jika dia masih mencintaiku, karena ulah Mommy dan keponakan kesayangannya membuat Grace akhirnya semakin menjauh dariku dan akhirnya menikah dengan orang lain." Ucap Xavier yang akhirnya membuat Robert terdiam.
"Akan lebih baik jika kalian sudah cukup mencampuri urusan pribadiku, aku bukan anak kecil lagi dan aku juga tidak mau menyakiti hati kalian, tapi aku sudah memutuskan tidak akan menikah dengan wanita lain." Ucap Xavier.
"Apa maksutmu, Xavier! Kau adalah anak kami satu-satunya, jika kau sendiri tidak menikah. Bagaimana keturunan Dante akan ada." Ucap Robert.
"Kalau begitu kalian adopsi saja cucu yang kalian mau dan mewariskan semua harta kalian kepadanya. aku sudah memutuskan akan pindah ke negara kelahiranku dan tidak akan pernah kembali." Ucap Xavier yang membuat Robert benar-benar kehabisan kata-kata.
Dia tidak Menyangka jika dampaknya akan seperti ini dan separah ini. Dia hanya terdiam dan sepertinya memang keputusan putranya tidak bisa diganggu untuk saat ini.
Dia memilih untuk pergi dari sana sedangkan Xavier mengepalkan tangannya. Dia menunduk dan menghela nafas panjangnya karena tidak menyangka jika sebentar lagi dia akan kehilangan Grace untuk selamanya.
*****
"Jangan menemui putriku lagi sebelum pernikahan, Reyhan! Atau aku akan menunda pernikahanmu dengan Selena!" Ucap Magie. Ibu dari Grace yang membuat Reyhan menggaruk dahinya.
"Baiklah, maafkan aku. Ma. Aku benar-benar merindukannya kemaren. Sampai hari ini aku berjanji tidak menemuinya lagi dan akan membawanya kabur saat sudah pernikahan kita." Ucap Reyhan sambil terkekeh sendiri.
"Dasar nakal!" Magie langsung mematikan sambungan teleponnya setelah puas menegur calon menantunya.
Sedangkan Grace yang mendengarnay terkekeh karena bisa-bisanya ibunya menghubungi Reyhan dan mengomelinya.
Dia memilih untuk pergi ke kamarnya, sebisa mungkin dia tidak ingin menunjukkan cara jalannya yang terlihat berbeda, dia bahkan sebenarnya ingin berjalan sedikit mengangkang karena miliknya benar-benar masih merasa tidak nyaman dengan jalan terlalu rapat seperti ini. Sudah lama tidak melakukannya nyatanya ternyata masih terasa tidak nyaman, apalagi Reyhan terlalu liar dan bringas malam itu membuat dia menjadi kesakitan.
"Cara bercintanya hampir sama dengan Xavier." Gumam Grace namun dia tersadar sendiri karena bisa-bisanya dia menyamakan Reyhan dengan mantan kekasihnya.
"Sepertinya aku harus berendam agar sedikit lebih baik. Dan otakku tidak memikirkan ke mana-mana." Gumam Grace.
Dia akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air untuk dirinya sendiri yang akan berendam di dalam bathub.
Saat asik berendam, ponselnya berbunyi yang membuat Reyhan terkekeh karena yang menghubunginya ternyata adalah Reyhan. Calon suaminya.
Dengan santainya Grace mengangkatnya dan mengarahkannya ke arah wajahnya dengan bahu polosnya.
"Damt! Sayang. Apa kau sengaja." Reyhan memandangi calon istrinya yang bahkan sangat cantik meskipun sedang mandi dan tidak menggunakan riasan apapun.
"Tidak! Aku memang sedang mandi dan memegang ponsel tadi. Bertepatan dengan kau menghubungiku." Ucap Grace dengan santai.
"Milikku masih sakit karena ulahmu, kau sangat mengerikan jika di atas ranjang. Sepertinya saat sudah menikah aku harus menyiapkan vitamin untuk diriku sendiri." Lanjutnya yang sebenarnya itu juga bentuk omelan darinya.
"Tidak perlu membawa vitamin, nanti aku akan menyuntikkan vitaminku padamu agar semua benihku masuk ke dalam rahimmu." Jawab Reyhan yang membuat Grace melotot dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia tersenyum karena semakin lama calon suaminya ini semakin m***m kepadanya semenjak dia menerimanya dan mulai mencintainya.