Sehari sebelum pernikahan, keluarga dari Grace sudah sampai di hotel di mana keesokkan paginya dia akan melangsungkan pernikahan dengan Reyhan.
Sedangkan Reyhan dan keluarganya belum sampai karena mereka bahkan belum berangkat.
"Tumben sekali belum berangkat." Grace menyindir kekasihnya dari telefon karena biasanya dia akan menyegerakan suatu hal yang berbau dirinya.
"Ini mau berangkat, Sayang. Kau saja mungkin yang tidak sabar untuk bertemu denganku." Balasnya.
"Tidak juga!"
Perkataan Grace akhirnya membuat Reyhan tertawa. Dia mengubah panggilan telefon dengan panggilan vidio namun ditolak oleh Grace.
"Kau tidak boleh bertemu denganku sampai besok pagi." Ucap Grace.
"Lihat saja nanti. Akan aku pastikan jika nanti kau yang menemuiku." Ucap Reyhan dengan percaya diri namun Grace malah terkekeh.
Dia mematikan sambungan telefonnya karena sudah dipanggil oleh orang tuanya untuk makan bersama.
Sedangkan Reyhan dan keluarganya sudah akan bersiap berangkat menuju hotel di mana acara besok di adakan.
"Semuanya sudah siap, Rey?" Tanya sang ibu.
"Hm, ayo kita berangkat." Ajaknya.
Dalam satu mobil, di sana ada reyhan dan kedua orang tuanya saja, sedangkan keluarganya memakai mobil sendiri dan mengikuti dari belakang, tidak semua keluarganya ikut karena ada juga yang datang besok.
*****
Sedangkan ditempat lain, Xavier fokus melihat ke samping di mana jalanan sangat, dia tau jika besok adalah hari pernikahan Selena dan sudah pasti dia tidak akan bisa memilikinya lagi. Untuk itu dia memutuskan untuk meninggalkan negara ini dan mungkin tidak akan kembali.
Dia terlalu mencintai Grace dan menyesal karena tidak bisa mempertahankan hubungannya dulu dengannya sehingga membuat Grace kini akan menjadi milik orang lain.
Xavier menghela nafas panjangnya namun lalu merasa heran karena ada kemacetan panjang didepan.
"Ada apa?" Tanya Xavier kepada supirnya.
"Sepertinya ada kecelakaan, Tuan." Jawabnya.
Xavier menghela nafas panjangnya, meskipun macet. Namun jalanan masih bisa berjalan dengan pelan.
Dia melihat mobil kecelakaan di sana ternyata sangat parah, bahkan ada dari mereka sampai terlempar keluar dan da rah berceceran di mana-mana.
"Tunggu!" Xavier sangat terkejut melihat salah satu dari mereka adalah orang yang dia kenal.
Xavier bahkan langsung turun dan berlari menuju ke arah korban kecelakaan namun dia dihalangi oleh petugas.
"Aku mengenalnya, dia rekan kerjaku." Ucap Xavier yang terlihat benar-benar shock.
"Anda bisa menyusul ke rumah sakit, Tuan, kami akan membawanya ke rumah sakit. Karena kondisinya sudah sangat parah."
Xavier langsung masuk ke dalam mobilnya dan meminta supirnya untuk membawanya ke rumah sakit.
Hatinya benar-benar gelisah karena yang dia lihat adalah Reyhan, calon suami dari Grace.
Dilihat dari kondisi kecelakaannya qmemang sangat parah, entah kenapa dia malah menjadi khawatir dan memikirkan bagaimana perasaan Grace saat melihat calon suaminya karena tau jika Grace sudah mencintai pria itu.
Saat di rumah sakit, bertepatan dengan mobil ambulan datang dan membawa Reyhan yang sedang kesakitan.
Xavier mendekat yang membuat Reyhan melihatnya, matanya terlihat sendu dan seperti kesakitan.
"Anda siapanya?" Tanya dokter.
"Saya temannya sekaligus rekan kerjanya." Jawab Xavier.
"Tolong selamatkan dia." Lanjutnya.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik." Ucap dokter.
"Kau harus baik-baik saja demi Grace, jika tidak! Maka aku akan merebutnya." Ucap Xavier sebelum Reyhan dibawa ke dalam ruang perawatan.
Terdengar jahat, namun Xavier mengatakan itu agar Reyhan bisa bertahan hidup dan mengusahakan dirinya baik-baik saja agar wanitanya tidak direbut olehnya.
Xavier setia menunggu di sana yang bahkan belum ada keluarga yang datang sama sekali karwna semua keluarganya pun juga dirawat dan ada juga yang sudah dinyatakan meninggal.
Namun tak lama paman dari Reyhan menghampiri Xavier yang menunggu di depan ruangan Reyhan, hanya dia yang memiliki luka ringan meskipun tetap memakai kursi roda.
"Siapa kau?" Tanya Roni
Xavier memandangi Roni yang terdapat luka ditangannya.
"Alexavier. Teman Reyhan. Saat diperjalanan aku tidak sengaja melihat Reyhan dan langsung datang ke sini." Ucap Xavier yang dimengerti oleh Roni.
"Terima kasih." Dia bahkan meneteskan air matanya, dia tau jika kakaknya dan kakak iparnya sudah meninggal, bahkan istri dan anaknya kini kondisinya kritis dan masih mendapatkan perawatan.
Dokter keluar yang membuat kesuanya langsung menghampirinya.
"Pasien membutuhkan banyak darah, dan stok darah di rumah sakit ini tidak cukup, apa ada yang memiliki golongan seperti pasien? Itu sangat membantu." Ucap dokter.
"Ambile darahku, aku adalah pamannya, dan darahku sama dengannya." Ucap Roni.
"Maaf, Tuan. Anda sedang sakit dan saya tidak mungkin mengambil darah anda. Terlalu beresiko untuk kondisi anda." Dokter menolak karena tau bagaimana kondisi Roni.
"Tidak apa, aku tidak peduli yang terpenting keponakanku selamat." Roni memaksa tapi Dokter masih menolak dan tidak mau mengabulkannya.
"Ambil darahku saja, aku juga memiliki golongan darah itu." Ucap Xavier menyauti.
"Kalau begitu ikut perawat untuk diperiksa."
Xavier mengangguk dan langsung mengikuti perawat di dalam ruangan, dia diperiksa dan syukurnya memang darahnya cocok dengan Reyhan dan langsung di ambil darahnya.
Entah kenapa Xavier malah melakukan semua ini, padahal jika Reyhan meninggal. Dia bisa memiliki kesempatan untuk bersatu kembali dengan Grace, namun dia malah membantunya dan ingin dia tetap hidup.
"Anda beristirahat saja dulu, Tuan." Ucap Perawat yang diangguki oleh Xavier.
Dia menghela nafas panjangnya dan akhirnya beristirahat sebentar karena kepalanya sedikit pusing.
Dokter langsung melakukan operasi dan penanganan lainnya untuk menyelematkan Reyhan. Sedangkan diluar. Hanya ada Roni sang paman yang menunggu dengan setia di sana.
Tak lama terlihat beberapa orang yang berlarian menghampiri Roni dan salah satunya adalah Grace yang datang dengan mata sudah terlihat sembab yang sepertinya menangis sepanjanh perjalanan.
"Grace." Roni memandang calon keponakannya dengan sendu karena merasa kasihan dengannya.
"Paman, Reyhan.. Reyhan.. di mana dia." Selena bahkan kembali menangis yang membuat Roni seperti tidak tega mengatakannya.
"Dia sedang dalam penanganan dokter, dia akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu." Ucap Roni.
Namun perkataan Roni malah membuat tangis Grace pecah, dia benar-benar tidak bisa mengontrol air matanya karena memang hatinya sangat hancur ketika mendengar calon suaminya mengalami kecelakaan. Bahkan dia tau jika kedua calon mertuanya meninggal dalam kecelakaan tragis ini.
Roni ikut menangis karena dokter tadi sempat mengatakan jika sebenarnya persentasi keberhasilan operasimya hanya 30% namun setidaknya dia sudah mendapatkan darah dari Xavier sehingga dia bisa memungkinkan keselamatan Reyhan.
Dokter keluar dari ruangan yang membuat semuanya langsung mendekat.
"Dia baik-baik saja kan,?" Grace sudah memberikan pertanyaan kepada dokter yang membuat dokter menghela nafas panjangnya.
"Kondisinya masih kritis. Ada benturan keras di kepalanya dan kemungkinan kecil dia bisa selamat meskipun sudah di operasi dan diberikan darah yang cukup." Ucap dokter yang bahkan membuat Grace langsung memundurkan tubuhnya dan hampir terjatuh, tubuhnya sangat lemas.