Setelah kepergian Xavier dan Starla, Grace menghela nafas panjangnya,
"Tidak tau mau sekali." Gumam Grace.
"Grace, kita ternyata dapat hadiah." Ucap Lily yang senang.
Grace tidak paham dengan perkataan Lily namun saat dia melihatnya, di sana ada banyak paperbag.
"Teman-teman yang libur dan tidak kebagian menghandle pekerjaan hari ini pasti menyesal," ucap Lily terkekeh karena yang mendapatkan hadiah adalah mereka yang hari ini terlibat.
"Tuan Xavier memberikan koleksi jualannya, dan kau tau sendiri koleksi jualannya adalah mahal-mahal, jika ada yang murah pun setara dengan satu kali gajiku." Ucap salah satu dari mereka.
"Grace, ini untukmu. Kau dan Lily mendapatkan berbeda, enak sekali." Ucap salah satu dari mereka memberikan paperbag di mana di sana ada nama mereka.
"Waah, benarkah?" Lily semakin antusias dan membuka paperbag yang baru diberikan kepadanya dan Grace.
"Ini benar-benar bagus." Ucap Lily yang senang melihat jam tangan yang memang berbeda dengan lainnya terlihat lebih mahal.
Grace sendiri terpaksa juga membukanya namun melotot terkejut karena ternyata dia tidak sama dengan lainnya.
"Bagaimana milikmu, Grace?" Tanya Lily penasaran dan ingin mengintip milik Grace yang di tutup olehnya.
"Hampir sama sepertimu, aku mau ke toilet dulu." Ucap Grace dan langsung saja menjauhi teman-temannya.
"Apa-apaan ini! Apa dia ingin semua orang tau." Grace mengomel karena yang diberikan oleh Xavier adalah sebuah kalung berlian yang jelas saja harganya mungkin berpuluh-puluh lipat dari yang diberikan kepada teman-temannya.
Dia memilih untuk menyembunyikannya dan memasukkannya ke tasnya.
Dia kembali melanjutkan pekerjaannya namun sebenarnya masih banyak yang menggosipi tentang Xavier dan Starla tadi adalah pasangan yang serasi karena mereka dari keluarga terpandang dan sama-sama menggeluti dunia bisnis, apalagi mereka juga memiliki wajah tampan dan cantik. Banyak dari teman-temannya yang mengatakan jika mereka adalah pasangan yang sempurna.
Grace tidak begitu menanggapi dan menimbrung perkataan mereka, dia lebih baik melanjutkan pekerjaannya.
Namun tak lama dia bekerja, Xavier mengirimkan pesan untuknya soal apa yang diberikan tadi kepadanya.
(Semoga kau menyukainya)
Seperti biasa, Grace tidak menjawabnya dan memilih untuk mengabaikannya.
Saat pulang, Grace mengirimkan pesan kepada Xavier untuk tidak perlu menjemputnya karena dia ada urusan.
Namun belum satu menit Grace mengirimnya, Xavier langsung menghubunginya.
"Urusan apa? Biar aku antar." Ucap Xavier yang langsung mengatakan itu setelah Grace mengirimkan pesan kepadanya.
"Tidak semua hal tentangku perlu kau tau, aku ingin menyelesaikan urusanku sendiri." Ucap Grace menolak.
"Kau calon istriku. Aku ingin memastikan kau selalu baik-baik saja." Ucap Xavier
"Kau pikir aku akan apa? Aku hanya ingin keluar sebentar. Jangan mengekangku." Ucap Grace yang marah.
"Baiklah." Ucap Xavier pada akhirnya. Dia tau jika Grace kini sedang marah. Dan dia tidak mau semakin membuatnya marah dan akhirnya tidak nyaman dengannya.
"Telefon aku jika ada apa-apa." Ucap Xavier.
Grace tidak menjawab dan langsung mematikan sambungan telefonnya.
Xavier sendiri hanya menghela nafas panjangnya, dia sebenarnya sudah berada di depan kantor Grace bekerja, dia bahkan melihat Grace yang sudah keluar dari sana dan sepertinya sedang menunggu taksi,
Dia berencana akan mengikutinya dengan tunuan ingin memastikan jika Grace baik-baik saja.
"Maaf aku tidak mendengarkanmu, tapi aku mengkhawatirkanmu." Gumam Xavier lalu melajukan mobilnya ketika Grace sudah masuk ke dalam taksi.
Xavier mengikutinya tidak terlalu dekat agar Grace tidak tau jika dirinya mengikutinya. Xavier bisa menebak saat beberapa menit mobilnya melaju ke arah yang dikenal oleh Xavier.
Dia berhenti tidak jauh dari Grace berhenti, Xavier hanya diam saja namun keluar dari mobilnya untuk tetap mengikutinya.
Tujuan Grace adalah ke tempat pemakaman, dia tau jika Grace akan pergi ke pusara Reyhan, mendiang calon suaminya.
Xavier melihatnya dari kejauhan di mana Grace menangis di sana.
"Kau begiru sangat mencintainya, Grace. Aku melihatnya. Cintamu kepadanya sama seperti cintamu kepadaku dulu, apa aku bisa mendapatkan cinta itu kembali?" Gumam. Avier.
Dia tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Grace di pusara Reyhan, namun dia samar-samar mendengar jika Grace sangat mencintainya.
Xavier benar-benar hanya diam saja dan segera bersembunyi ketika melihat Grace sudah hampir selesai dan pergi dari sana.
Dia menghela nafas panjangnya dan akhirnya pergi juga dari sana setelah melihat Grace sudah tidak ada.
"Seharusnya kau tidak mengikutiku." Ucap Grace yang memergoki Xavier ketika dia hendak masuk ke dalam mobilnya.
Xavier sendiri terkejut namun pada akhirnya dia tidak bisa mengelaknya.
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Ucap Xavier jujur.
"Saat aku tidak bersamamu, aku selalu baik-baik saja, akan lebih baik jika kau tidak berlebihan dalam hal mendekatiku, kau harus ingat jika ku menikah denganmu karena—
Perkataan Grace berhenti karena dia sendiri rasanya seperti tidak adil jika dia selalu mengungkit tentang penerimaan lamaran Xavier hanya karena dirinya mengingat perkataan terakhir Reyhan,
"Tolong berikan aku juga kebebasan, aku hanya ingin mengunjunginya tanpa di ikuti seperti ini." Ucap Grace lalu berbalik namun Xavier mencegahnya.
"Biar aku antar," ucap Xavier.
"Aku akan pulang sendiri." Hcap Grace melepaskan tangan Xavier, Xavier terpaksa melepaskannya dan hanya melihat Grace masuk ke dalam taksi.
Dia membiarkannya dan tidak mengikutinya lagi, Xavier sendiri benar-benar harus ekrta sabat dalam menghadapi Grace karena memang perasaanya dengannya sudah berbeda dan tidak ada.
Dia tidak mau menyerah begitu saja hanya karena penolakannya dan amarahnya, dia sadar jika dirinya memang bersalah karena terlalu khawatir dengannya sampai mengikutinya seperti ini.